Media sosial baru-baru ini gempar dengan sebuah video pemukulan seorang pria oleh wanita, dalam video tersebut wanita memukuli mengunakan tongkat untuk alat bantu jalan.
Setelah pencarian dari internet ternyata peristiwa tersebut terjadi di kawasan Pantai Mutiara, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.
Perempuan yang menjadi pelaku penganiayaan tersebut diketahui adalah istri dari korban tersebut, pelaku terindikasi mengalami gangguan kejiwaan, semoga korban dan pelaku cepat pulih dan sehat kembali.

Biasanya kita tidak bisa memisahkan antara wanita dan kekerasan dalam rumah tangga, kejadian diatas terjadi sebaliknya, bukan mungkin tidak mungkin kekerasan juga terjadi pada pria.
Dalam tahun 2018 IDN Times menuliskan bahwa kekerasan dalam rumah tangga mengalami peningkatan di ranah privat.

Baca juga https://hijrahwedding.com/2019/12/09/masalah-masalah-rumah-tangga-ini-bisa-kamu-hempaskan-kok/

Kekerasan dalam rumah tangga bisa terjadi dimana saja khususnya disekitar kita,

Dalam UU No. 23 tahun 2004 sendiri mendefinisikan bahwa kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebagai perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Tindakan kekerasan dalam rumah tangga bisa menimbulkan efek negatif yang beragam, bisa menjadi jangka pendek ataupun jangka panjang.
Khususnya psikologi dan fisik, dari kesulitan untuk berkomunikasi atau pun menjadi lebih agresif tindakannya.

Jika kita sudah melihat kekerasan dalam rumah tangga, jangan sungkan untuk meminta bantuan dan melapor agar kita bisa segera menolong korban, jangan hanya didiamkan.
Karena sejatinya salah satu tujuan pernikahan yaitu memberikan rasa aman, bahagia serta membuat kenangan indah bersama bukan sebaliknya.

Referensi : https://id.theasianparent.com/kekerasan-dalam-rumah-tangga