Apa itu Sertifikasi pernikahan?

Sertifikasi pernikahan di tahun 2020 diungkapkan merupakan rancangan program dari Kementrian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK). Program tersebut akan menjadi salah satu syarat pernikahan bagi para pasangan yang akan menikah.

Dikutip dari Antara, pada Kamis (14/11/2019). Muhajir, Ketua PMK mengatakan sertifikasi pernikahan harus masif, sifatnya harus berlaku wajib.

Muhajir juga menyampaikan tujuan program tidak lain adalah untuk membekali calon pasangan suami istri terkait ekonomi keluarga, kesehatan reproduksi, pengasuhan anak, hingga dapat mengurangi angka perceraian.

Menteri Fachrul Razi menyambut ide ada sertifikasi pernikahan dengan baik. Sekaligus menyampaikan bahwa ke depannya pihak Kantor Urusan Agama (KAU) akan bertugas memberikan penyuluhan dan mengeluarkan sertifikasi pernikahan.

Bagaimana cara mendapatkan sertifikasi pernikahan?

Untuk mendapatkan sertifikasi pernikahan maka pasangan harus mengikuti bimbingan pranikah. Rencananya bimbingan pranikah akan dibagi menjadi beberapa bagian yang berlangsung selama 2 hari. Salah satu bagiannya akan berusaha mengurai kemungkinan-kemungkinan penyebab perceraian, sehingga ke depannya bisaterhindar. Bimbingan pranikah diadakan sebagai pembekalan untuk membereskan konflik penyebab perceraian. Pasangan akan dibekali bagaimana memenuhi kebutuhan bersama, bagaimana prinsip kesetaraan dan kerja sama, bagaimana KDRT itu bisa dihindari dengan komunikasi yang baik.

Kemudian sesi bimbingan yang kaitannya pengenalan diri sendiri, bagaimana kesadaran kebutuhan dan karakter pasangan, pengelolaan emosi dan diri sendiri sampai pada tahap bagaimana mengelola sebuah hubungan. Dalam bimbingan pranikah, para pasangan akan dibekali pengetahuan seputar kesehatan alat reproduksi, penyakit-penyakit berbahaya yang bisa terjadi pasa suami istri hingga masalah stunting. Kelas bimbingan rencananya akan dilaksanakan selama tiga bulan.

Namun program ini masih disiapkan oleh PMK dan Kementrian Agama (Kemenag), karena ada beberapa hal yang perlu dimatangkan dan ke depannya juga berlaku bagi semuaa pasangan yang akan menikah apapun agamanya.

Rancangan program sertifikasi pranikah dinilai menarik, sejumlah pihak seperti Komnas Perempuan menyetujui adanya program kemudian menghimbau agar sertifikasi pernikahan tidak membebani pasangan. Mengingat persiapan pernikahan saja sudah repot ya kan? Juga dengan catatan agar bimbingan pranikah juga fokus ke praktik pasca menikah, supaya para pasangan tidak hanya mengejar sertifikasinya saja, tetapi juga mau menerapkan ilmu yang diperoleh.

Menurutmu bagaimana?